¨Keluarga yang baik akan menciptakan Negara yang baik pula.¨,penuturan dari penggagas acara diskusi pada hari jumát 28/03/08 sore di Aula Kantor PD.Muhammadiyah Kebumen,dengan tema mencari solusi meningkatnya kasus perceraian di Kebumen. Mba Irma  ¨dari indipt¨ menggagas acara tersebut karena  melihat banyaknya kasus perceraian yang terjadi  di Kebumen.

Hadir tiga pembicara dalam acara tersebut dari  instansi-instansi  terkait  seperti  dari  Penasehat  BP4  Depag  Kebumen,Bagian Pemberdaya  Perempuan Kesra  Kebumen,dan dari  Pengadilan Agama Kabupaten Kebumen.  Disamping itu juga hadir  beberapa perwakilan dari Muhammadiyah,NU,Muslimat NU,Aisiah,Gentar,Gerja Katolik,dan  dari indipt.

Sebenarnya perceraian terjadi  karena  masyarakat  Kebumen kususnya  belum  bisa  memaknai ¨memahami¨ arti dari  keluarga  sakinah ,mawadah,dan warohmah. Yang di maksudkan adalah :
Sakinah,yang artinya  di peroleh  minimal  kebutuhan  dasar ,diantaranya  :
1. Kebutuhan Agama.
2.  Ekonomi.
3.  Kesehatan.
4.  Pendidikan.
5.  Komunikasi.
Jika keluarga  sudah  paham  makna  Sakinah,maka  dalam  keluarga  akan tercipta  keluarga  yang  harmonis,dan  faktor  keributan atau pertengkaran dalam rumah tangga juga  bisa di tekan.

Mawadah,yang artinya kosong,kosong dalam artian tidak ada rasa untuk saling menyakiti.

Warrohmah,yang artinya kasih sayang,dalam rumah tangga suami istri harus memaksimalkan rasa kasih sayang di keluarganya.

Itulah makna dari keluarga yang Sakinah,Mawadah,dan Warrohmah yang di sampaikan Bapak Tusah Ihsanudin,M.As dalam acara tersebut. Selain itu juga masih banyak hal yang memicu terjadinya perceraian  di Kebumen.  Pak  Agus  mengatakan  bahwa kasus perceraian yang terjadi di  kebumen ,menurut dari laporan Pengadilan  Agama ada beberapa sebab yang memicu terjadinya perceraian,di antaranya :

1. Krisis moral ¨ perselingkuhan ¨
2. Tidak tanggung jawab,yang di maksud setelah nikah dalam jangka waktu tertentu di tinggal pergi begitu saja.
3. Penganiayaan berat,seperti,penganiayaan fisik maupun mental.
4. Cacat biologis ´mandul¨,tidak bisa memenuhi kebutuhan sex.
5. Poligami  tidak sehat,karena tidak ada  persetujuan  dari  istir  pertama.
6. Ekonomi,tidak pernah di nafkahi.
7. Tidak ada keharmonisan,dalam rumah tangga selalu cekceok atau ribut.
8. Gangguan pihak ke tiga,seperti orangtua terlalu ikut campur dalam rumah tangga.

Data-data di atas di ambil dari beberapa kasus yang sudah di tangani di Pengadilan Agama Kebumen. ¨ Itu baru yang di tangani di Pengadilan Agama,belum yang di tangani di Pengadilah Negeri ¨,tegas Pak Agus. Dengan banyaknya kasus perceraian yang tercatat di Pengadilan Agama Kebumen,ini sangat dekat hubungannya dengan kasus kekerasan yang terjadi di Kebumen. Mungkin itu salah satu pemicu terjadinya perceraian,karena tidak tahan dengan perlakuan sang suami,sang istri mengajukan gugat cerai. Gender bukanlah berarti perempuan,Gender adalah penyeimbangan atau penyetaraan peran antara kaum hawa dengan kaum adam. Sekarang kaum hawa sedikit demi sedikit sudah tau apa itu Gender. Bukan berarti kaum hawa sudah tau tentang Gender terus bisa meningkatnya kasus perceraian,tapi ini memang sangat erat hubungannya.

Ibu Siti Nuriyatun Fauziyah menerangkan,bahwa untuk mengurangi kasus  kekerasa dalam rumah tangga ¨KDRT¨,harus tercipta keluarga yang tangguh. Yang di maksud tangguh disini adalah :

1. Kehidupan beragama yang kuat.
2. Waktu kebersamaan dalam keluarga,biarpun sibuk bagaimana,di sarankan untuk meluangkan waktunya untuk keluarga walaupun hanya sebentar.
3. Komunikasi yang baik,dalam keluarga,jalinan komunikasi jangan sampai putus atau terlalu renggang.
4. Saling menghargai antar keluarga,kepada suami,istri,bahkan anakpun harus kita hargai.
5. Ada rasa saling memiliki,tidak ada istilah masa bodoh,semua memiliki.
6. Langkah-langkah preffentif.

Mungkin itu langkah-langkah untuk menghindari dari kasus kekerasan bahkan sampai pada perceraian.

Acara diskusi berlangsung cukup menarik,smakin ramai ketika ada beberapa peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada ketiga nara sumber. Banyak pertanyaan  dan usulan yang diajukan,tentunya yang berkaitan dengan kasus perceraian yang terjadi di Kebumen. Seperti pertanyaan dari Mba Alifiah yang menanyakan apakah orang yang tidak mampu bisa mengajukan gugatan perceraian ¨gratis¨ kepada Pengadilan Agama?,dan persyaratannya apa saja?. Pertanyaan ini di jawab Pak Agus,karena Pak Agus yang berkaitan langsung dengan hal ini. ¨Bagi orang yang tidak mampu,bisa mengajukan gugatan cerai kepada Pengadilan Agama,tapi,karena budaya orang jawa yang mempunya sifat ,¨ miskin harta,kaya jiwa¨.¨,dikatakan Pak Agus dengan canda.

Dari penjelasn-penjelasan di atas,menimbulkan berbagai pertanyaan.

1. Apa karena lemahnya pemerintahan kita untuk menghadapi masalah seperti itu ?.
2. Apa karena masyarakat yang kurang memahami arti dari sebuah pernikahan ?.
3. Apa karena sudah menjadi wataknya masing-masing indifidu?.
4. Apa pernikahan sudah tidak syakral ?.
5. Apa bagaiman ?.
6. Apakah ini yang di maksud dengan maslah ?.

Advertisements