KEBUMEN – Forum Komunitas ¨FORKOM¨ Pengurangan Resiko Bencana¨PRB¨ DAS TELOMOYO  beserta INDIPT menyambut kedatangan rombongan dari Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial ¨BBPPKS¨ Yogjakarta,di Rumah panggung Sidobunder Kec.Puring sabtu 29/03/08 siang. Rombongan tersebut   terdiri  dari Pekerja Sosial Masyarakat di Wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengikuti Diklat di BBPPKS dan Dinas BBPPKS.

BBPPKS datang ke Kebumen bertujuan untuk setudi banding,belajar mengenal penanggulangan bencana berbasis masyarakat dengan For Kom PRB DAS Telomoyo. For Kom PRB DAS Telomoyo yang telah terbentuk beberapa waktu lalau atas prakarsa dari indipt,yang terdiri dari tiga kawasan di DAS Telomoyo di antaranya kawasan Hulu,kawasan Tengah,dan kawasan Hilir. Disamping itu juga hadir Bpk Camat Puring dan beberapa warga dari tiga kawasan.

Dalam acara tersebut,peserta diklat berinteraksi ¨tanya jawab¨langsung dengan masing-masing narasumber dari ketiga kawasan yang masing-masing di dampingi dari indipt. Narasumber dari kawasan Hulu Bpk Sudiono ¨Kades Pohkumbang¨,kawasan Tengah Bpk Supriono ¨BPD Sugiwaras¨dan Bpk Salud ¨Kades Sidobunder¨,sedangkan    narasumber dari kawasan Hilir Bpk Warisman ¨Sekdes Jladri¨.

Dari ketiga kawasan tersebut memiliki karakter bencana yang berbeda-beda,sebagai contoh,di kawasan Hulu karakter bencana banjir yang terjadi banjir bandang,sedangkan di kawasan Tengah karakter bencana banjir yaitu banjir menggenang,sedangkan di kawasan Hilir selain banjir juga air pasang surut dari laut.

Bencana banjir di kawasan Hulu.

Di kawasan Hulu tepatnya di Desa Pohkumbang,yang sering terjadi adalah bencana banjir bandang. Banjir bandang terjadi ketika hujan deras turun berkisar 5-10 jam secara terus menerus yang akhirnya terjadi banjir bandang,dan ini di terjadi karena hutan di kawasan Hulu,jenis pohon yang di tanam kurang bisa menahan atau menyerap air hujan sehingga debit air hujan yang begitu deras langsung menggenangi kawasan tersebut secara seketika. Dalam jangka waktu yang singkat air surut kembali seperti tidak terjadi banjir. Beberapa tindakan sudah di lakukan oleh warga untuk mengantisipasi terjadinya banjir bandang,sepertimeninggikan tanggul,membuat saluran-saluran air,dan menanami kembali hutan dengan jenis tanaman yang bisa menahan atau menyerap air hujan. Dengan tindakan seperti itu Alhamdulillah pada musim hujan tahun ini tidak terjadi lagi banjir bandang seperti tahun sebelumnya.

Bencana banjir dan kekeringan di kawasan Tengah

Untuk bencana banjir yang terjadi di kawasan Tengah tepatnya di Desa Sidobunder,Desa Sidowaras,Desa Madurejo,dan Desa-desa di sekitar kawasan Tengah,yang sering terjadi adalah banjir menggenang dan itu terjadi ketika musim hujan tiba. Yang di maksud dengan banjir menggenang adalah banjir yang jangka waktu surutnya lama, sehingga menggenangi beberapa desa di kawasan tersebut dan bisa mengakibatkan gagal panen. Lama surutnya air yang menggenangi kawasan tersebut dikarenakan dua debit air yang bertabrakan,yaitu air kiriman dari Hulu dan air pasang laut dari kawasan Hilir yang menyebabkan air menggenangi kawasan Tengah dan lama surutnya.

Sedangkan di musim kemarau,di kawasan Tengah terjadi kekeringan,dikarenakan  debit air  saluran irigasi dari waduk sempor tidak sampai ke kawasan Tengah,yang akhirnya di kawasan Tengah kekurangan air. ¨Musim udan wudu ndodok,musim terang wudu cewok¨,yang artinya ¨kalau musim hujan susahbuat jongkok,kalau musim kemarau susah cari air buat mbersihin sehabis buang air besar¨,itulah yang di rasakan warga desa Sidobunder dan sekitarnya.¨ ungkapan Pak Salud ¨.

¨Pada musim hujan tahun ini Alhamdulillah tidak terjadi banjir,sehingga hasil panen periode kali ini petani bisa menghasilkan panen yang melimpah,walaupun sekarang harga pupuk cukup mahal. ¨,ungkapkan Pak Supriono kepada peserta diklat.

Bencana banjir dan pasang air laut di kawasan Hilir

Sedangkan banjir yang terjadi di kawasan Hilir,sama seperti banjir yang terjadi di kawasan Hulu yaitu banjir bandang. Tapi,di samping banjir bandang juga sering terjadi Rob ¨air pasang¨,setiap bulannya pasti terjadi rob,rob sampai menggenangi sebagian persawahan di desa Jladri,yang akibatnya tanaman padi yang tergenangi   bisa mati dan gagal panen. Tidak setip rob bisa menggenangi persawahan,ada bulan-bulan tertentu yang robnya lumayan besar dan naik ke persawahan. Beberapa tanggul yang rusak juga mengakibatkan rob naik ke persawahan,yang dulunya tanggul tersebut adalah tanaman pohon Nipah yang bisa menahan rob dari laut.

Tidak semua persawahan terkena rob,hanya beberapa bagian saja yang biasanya terkena rob,tapi ini juga merugikan petani yang mempunya sawah di daerah tersebut. Langkah-langkah sudah dilakukan warga untuk mengantisipasi rob supaya tidak naik ke persawahan mereka,tapi besarnya rob yang terjadi sehingga rob tetap naik ke persawahan mereka. Warga hanya pasrah dengan adanya seperti itu,toh usaha sudah di lakukan tapi tidak membuahkan hasil juga.

Interaksi peserta diklat dengan narasumber dari tiap-tiap kawasan begitu mengasyikan dan merubah suasana rumah panggung di Sidobunder,rumah panggung tersebut yang tadinya hanya di gunakan untuk menyimpan padi warga setempat,seketika menjadi ramai oleh canda tawa peserta diklat. Tak terasa waktu terus berjalan dan akhirnya terdengar intruksi dari instruktur diklat,yang menandakan waktu interaksi sudah berakir dan akan melanjutkan perjalanan pulang ke Yogjakarta.