Kaget,ketika terdengar ketukan pintu gerbang kandang sapi. Pak Habib berusaha membangunkan penjaga kandang,di gedor-gedor pintu gerbang,tapi sang penjaga masih tetap pulas tidur. Terpaksa saya harus bangun dan membukanya,karena semakin lama gedorannya semakin keras. Gelap sekali suasana kandang,disamping lingkungannya yang masih banyak pohon-pohon besar,pagi itu juga masih mati lampu.

Dengan suasana yang masih remang-remang,saya dan salah satu dari peserta pelatihan berusaha menelusuri perkampungan Maduretno. Sang mentaripun belum menampakkan diri,membuat hati tertarik untuk menanti keindahannya. Di sekitar lahan pertanian jagung milik Pak Habib,kami berdua menanti munculnya sang mentari. Dengan malu-malu sedikit demi sedikit sang mentari menampakkan diri,membuat hati tak sabar ingin melihat keindahannya. Beberapa kali saya mengambil gambar keindahan suasana di pagi itu,namun keindahannya belum tampak sempurna,karena sang mentari masih malu-malu untuk menampakkan diri.

Begitu sempurna pagi itu,ketika sang mentari menampakkan diri seutuhnya,di hiasi kabut,mega,dan lukisan-lukisan awan yang begitu indah. Kesempurnaan itu hanya beberapa menit saja,karena sang megapun menghilang dan kabutpun pergi entah kemana.

Pagi itu bukan hanya kami berdua yang menanti indahnya sang mentari,ternyata banyak dari peserta pelatihan yang menunggu sang mentari muncul. Di tempat yang berbeda,peserta pelatihan juga bisa menikmati indahnya mentari di pagi itu,mungkin malah lebih indah dari tempat yang kami berdua tuju.