Tadi siang saya ngobrol panjang lebar dengan Kang Tajib,yang pada ujungnya sampai masalah jujur dan bohong. Sebenarnya saya bingung dengan apa yang di lakukan Kang Tajib selama ini pada saya,tentunya untuk mengajari saya menulis dan sebagainya. Ada sesuatu yang mengganjal pada diri saya,sesuatu yang di wanti-wanti orang tua. Bohong salah satunya. Menurut pandangan saya bohong adalah bicara yang mengada-ada,bicara yang tidak sebenarnya. Tidak tau dengan pendapat teman-teman,apa itu bohong.

Sebenarnya saya males bicara masalah jujur dan bohong,apalagi sampai mempelajari itu “pusing deh”. Tapi,menurut penilaian Kang Tajib saya terlalu lugu,jadi tidak bisa membedakan di mana harus bohong,di mana tidak. Jika memang benar seperti itu,berarti selama keterbukaanku padanya adalah kebodohanku. Saya terlalu lugu,saya terlalu terbuka,dan sebagainya. ya,ya,ya,ya,ya,…………………………………paham.

Saya harus dewasa,saya harus bisa berfikir,saya harus bisa melakukan ini. Jika saya selama ini terlugu,maka maafkanlah aku Bu,saya harus merubah pola  pikirku. Jika tidak segera di rubah saya tidak bisa dewasa. Hidup di Dunia memang harus ada kerasnya,tanpa  itu tidak asyik rasanya. Kaya sayur tanpa garam,tanpa kopi tanpa gula. Ya,saya paham sekarang untuk hidup di dunia.

Masalah bohong dan jujur tidak usah terlalu di pikirkan,yang penting bisa dewasa,bisa memahami masalah dan bisa menyelelsaikan masalah. Daripada pusing-pusing mikirin bohong dan jujur,mending mikirin masalah dan penyeleseannya. Itu malah bisa menambah kedewasaanku,daripada terlalu lugu,mending dewasa. Lugu biasanya malah di bohongi,kalau dewasakan susah di bohongi. Malah bisa jadi membohongi,tapi tidak jadi masalah jika bohongnya untuk kebenaran. wah,yang repot jika bohong untuk kejahatan,bisa jadi pembohong besar. Waduh,malah bingung ngomong bohong. Tadi kan sudah bilang tidak akan ngomong jujur dan bohong,kenapa sampai situ ya….>?.