Untuk membuat perencanaan program. Atasan menyuruh saya untuk menghubungi Mba Irma yang sedang menjalani cuti hamil. Maksud dan tujuannya tidak lain adalah minta pendapat masalah rencana program menumbuhkan budaya warung hidup. Berikut adalah perbincangan saya dengan Mba Irma lewat telepon.

” Mba,kira-kira program menanam sayuran di sekitar rumah bisa berjalan 2 tahun tidak,Mba ?.”,tanyaku pada Mba Irma.
” Ya bisa,kenapa tidak !!!!.”,tegasnya. ” Tapi itu tergantung peserta punya lahan apa tidak ?.”,tambahnya.
” Terus alasannya apa,Mba berpendapat seperti itu ?.”,tanyaku lagi.
” Ya…..program itu bagus. Karena program itu bisa mengurangi beban kebutuhan dapur,sedangkan sekarangkan kebutuhan dapur harganya mahal banget. Seperti cabe aja sekarang harganya sudah berapa ?,terus minyak goreng sekarang harganya juga sudah 16.000. Dengan program menanam sayuran di sekitar rumah kan bisa mengurangi belanja,yang tadinya harus beli cabe,jadi tidak beli karena kita menanam di sekitar rumah. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain Mas Dar.”,keterangan Mba Irma memberi contoh.
” Mba,terus kira-kira tepatnya di mana kita akan terapkan program tersebut ?.”,tanyaku lagi.
” Ya…….sesuai dengan sasaran kan kemaren ada 3 kawasan. Antara daerah Gombong,Pejagoan,dan Kebumen. Gimana kalau di Karangsari Kebumen saja ?,di sana kan sasaran kita sudah ada,seperti GENTAR. “,Mba Irma menawarkan.
” Terus kira-kira berapa pesertanya ?,terus siapa saja yang menjadi peserta program tersebut ?.”,tanyaku lagi.
” Ya……kalau peserta menurutku sih sekitar 50 keluarga,itu lebih efektif. Karena dari semua peserta kan ada beberapa yang tidak menjalankan kegiatan dengan baik,paling tidak dari 50 peserta ada 30 peserta yang bisa berjalan. Kalau peserta yang di libatkan sih kenapa tidah GENTAR saja,selama ini mereka kan salah satu dari sasaran program kita. Kenapa tidak !!!.”,Mba Irma menyakinkan kalau GENTAR salah satu saran program.
” Apa Mba Irama benar-benar yakin kalau program tersebut bisa berjalan 2 tahun berturut-turut ?.”,tanyaku mengulang pertanyaan awal untuk meyakinkan.
” Yakin,jika di tangani dengan serius.”,tegasnya.
” Pertanyaan terakhir Mba. Bagaimana dengan program yang di lakukan Mba Irma sekarang ini,apa yakin akan berhasil ?.”,pertanyaan terakhirku.
” Saya sangat yakin dengan apa yang saya lakukan dan Saya yakin program ini akan berhasil. Masa tidak yakin dengan apa yang di lakukan diri sendiri,jangan pesimis dulu Mas Dar. Kita harus optimis dengan apa yang kita lakukan.”,tegasnya padaku dengan nada canda.

Itulah hasil dari perbincangan saya denga Mba Irma yang berada di Sempor di rumah kedua orang tuanya. Dengan sendirinya Atasan saya mendengarkan langsung perbincangan saya dengan Mba Irma,karena telepon yang saya gunakan saya losspesker. Jadi saya tidak repot-repot menjelaskan kembali pendapat dari Mba Irma.

Saya tidak tau alasan atasan menyuruh saya menghubungi Mba Irma,padahal saat itu atasan saya sedang menyelesaikan proposal untuk program Mba irma sendiri. Apa hanya mengujuku ?.