Begitu lemah gemulai dirimu melenggangkan tubuh,bagaikan lentur tanpa beban dan tekanan. Tinggi menjulang di angkasa sana,memandang luas belahan bumi sebatas jangkauan pandang. Sepasang layang menjulang tinggi,bagai sepasang dua sejoli. Angin berhembus membelai tubuh yang di hias sang periasmu,dengan riasan sangat sederhana. Kesederhanaan menunjukan diri yang anggun,di sertai tingkahmu yang gemulai,membuatku terpesona memandang. Berat rasa untuk meninggalkanmu,tak jemu-jemunya aku memandangmu,walaupun sesekali aku harus menundukan kepalaku. Bukan karena lelah,bukan pula karena bosan. Tapi benar,itu karena keterpaksaan diri untuk sesaat melirik tetangga sebelah.

Hari semakin sore,anginpun harus pulang meninggalkan dirimu. Bukannya angin sudah tak mau lagi bermain denganmu,tapi sungguh,angin terpaksa meninggalkanmu,menuruti panggilan sang angin malam. Sang megapun datang menghampiri sang layang,sang mega memberitaukan bahwa sang layang harus segera pulang dan istirahat. Bukannya sang layang tak mau pulang,sang layang menunggu majikan yang tak kunjung datang,menunggu dengan keterpaksaan. Terpaksa sang layang bertahan menjulang tanpa angin yang menekan,karena anginpun harus pulang memenuhi panggilan sang angin malam.

Riang hati sang layang,ketika melihat dari angkasa sana,sang majikan datang menghampirinya. Dengan langkah panjang,sang majikan mendekat menyapa sang layang. ” Wah …….,sudah sore nih,sudah tidak ada angin rupanya. Pantesan yang lain sudah tidak ada,rupanya sudah pada di turunkan semua,tinggal kamu yang belum. “,ucap sang majikan dengan santainya,padahal sang layang sudah tidak tahan lagi di atas sana,malah sang majikan dengan santainya menurunkanku.

Sedikit demi sedikit sang majikan menarik benang sang layang,perasaan girangpun menyertai sang layang,karena sudah sangat lelah seharian berjemur dan menahan kelitikan sang angin. Geleng-geleng kepala sang layang ketika sang majikan berhenti menarik benang,menunjukan dirinya lelah dan sudah tak mau lagi berada di angkasa sendirian. Di ikuti gerak gemulai riasan yang melekat di tubuhnya,menunjukan ketidak berdayaannya. Sang majikan meriasnya dengan kertas tulis bekas buku pelajaran sekolahnya dulu,walaupun demikian,tak membuat sang layang harus manja.

Warna bajunya yang gemerlap seperti baju biduan terkenal,membuatnya tampak ayu menawan. Selepas layang memandang,hanya kenangan dalam angan sang layang,dengan harapan besok bisa bermain lagi dengan sang angin. Di belai riasan sang layang,penuh sentuhan kasih sayang sang majikan. Lalu,sang majikan mengajaknya pulang. Selamat tinggal angin,selamat tinggal mega,selamat tinggal teman-teman semua,semoga besok kita bisa bermain dan bercanda lagi.