Belajar pertanian dan peternakan (10): Melihat pertanian waraga

Dihari kedua sebelum praktek pembuatan pupuk organik, fasilitator mengajak peserta jalan-jalan melihat dan belajar pertanian warga setempat. Dipandu mba Supra dan dibantu pak Saekhu “sebagai petunjuk jalan”, peserta menuju pertanian oyong milik pak Soni. Setibanya di lokasi pertanian, mba Supra menjelaskan pada pak Soni maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Dengan senang hati pak Soni mengijinkan peserta melihat dan bertanya tentang tanaman oyong, baik dari cara pemilihan bibit, penanaman, perawatan, dan sampai kepemasarannya. Tidak hanya menjelaskan secara materi, beliau juga mempraktekkan bagaimana cara pemupukan yang baik.

Setelah tanya jawab dengan pak Soni fasilitator mengajak peserta menuju keperkebunan melati milik pak Jamil. Karena pak Jamil masih di rumah, pak Saekhu mampir mengajak beliau menunjukan tanaman melatinya pada peserta pelatihan, pak Saekhu juga menerangkan tujuan pelatihan tersebut. Bersama-sama peserta pak Jamil menuju ke perkebunan, melewati luasnya lahan pertanian dan teriknya matahari, tak melemahkan semangat peserta, walaupun sesekali dari mereka kelimpungan dan mencari tempat yang teduh.

Sesampainya di lokasi peserta mulai ber-aksi, ada yang mencari tempat berteduh  dan ada juga yang menyerang pak Jamil, tentunya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar tanaman melati. Tak jauh beda pertanyaan yang diajukan, yaitu masalan pembibitan, perawatan, dan pemasaran.  “Pak,dari mana sih inspirasi Bapak menanam melati, yang saya liahat di sekitar sini kebanyakan petani menanam jagung, padi, kedelai, dan tanaman palawija lainnya, Bapak malah lebih mengembangkan tanaman melati, itu bagaimana ceritanya?.”, tanya salah satu peserta.

Pertanyaan yang sangat menarik. “Saya mengenal dan memulai usaha ini ketika saya mengikuti pelatihan di Pekalongan, ketika itu ada teman yang mengajak   pelatihan bagaimana usaha bunga melati. Karena saya tidak punya lahan yang luas “seperti petani yang lain”, akhirnya saya menanami lahan ini dengan tanaman bunga seperti yang anda lihat saat ini. Sebenarnya dulu saya sama seperti anda semua, setelah merantau, pulang di rumah bingung mau usaha apa. Alhamdulillah dengan usaha ini saya bisa menghidupi keluarga saya, ya… walau hanya sederhana.”, terang pak Jamil.

Karena waktu sudah cukup siang, mba Supra mengajak peserta pulang ke kandang sapi dan istirahat makan siang. Namun peserta lebih memilih beristirahat di Masjid, disamping tempatnya yang sejuk mereka juga bisa cuci muka dan tiduran sambil menunggu makan siang.